Halo teman-teman, I currently wanna share my ideas about Toxic Relationship. Toxic Relations yang aku maksud disini bukan kesesama teman, sahabat, atau ke partner kerja ya. But first of all I wanna claim that this article is based on my own perspective. It means, whether you agree or disagree, that is your absolute right.
Akhir-akhir ini aku sering banget nih menemukan postingan di Instagram tentang cewek/cowok yang lagi galau, sakit hati, depressed karena pasangannya, atau postingan seseorang yang memberikan motivasi untuk bisa keluar dari yang namanya Toxic Relations.
So, have you guys heard about it before? Semenakut kan apa sih kalau kita ada disebuah hubungan yang berlandaskan Toxic Relations? dan bagaimana ya kira-kira cara kita mengetahui apakah kita ada di dalam sebuah hubungan yang beracun atau tidak ?
You guys must be known kalau menjalin sebuah hubungan itu harus berlandaskan rasa kasih sayang, karena kita sayang- of course, kita pasti menghormati pasangan kita, ingin melindungi, ingin mewujudkan rasa nyaman satu sama lain. So, when the healthy love requires those of criteria, meanwhile the Toxic Relations malah keterbalikan dari apa-apa saja yang sudah aku sebutkan tersebut.
Akhir-akhir ini aku sering banget nih menemukan postingan di Instagram tentang cewek/cowok yang lagi galau, sakit hati, depressed karena pasangannya, atau postingan seseorang yang memberikan motivasi untuk bisa keluar dari yang namanya Toxic Relations.
So, have you guys heard about it before? Semenakut kan apa sih kalau kita ada disebuah hubungan yang berlandaskan Toxic Relations? dan bagaimana ya kira-kira cara kita mengetahui apakah kita ada di dalam sebuah hubungan yang beracun atau tidak ?
You guys must be known kalau menjalin sebuah hubungan itu harus berlandaskan rasa kasih sayang, karena kita sayang- of course, kita pasti menghormati pasangan kita, ingin melindungi, ingin mewujudkan rasa nyaman satu sama lain. So, when the healthy love requires those of criteria, meanwhile the Toxic Relations malah keterbalikan dari apa-apa saja yang sudah aku sebutkan tersebut.
Toxic Relations itu adalah sebuah hubungan yang salah satu atau keduanya memiliki karakter Toxic (Toxic Individuals) yang meracuni pasangannya dengan tingkah laku dia yang tidak bisa mengontrol emosi, extremely moody a.k.a tidak stabil, membuat kita kehilangan banyak energi saat kita sedang bertengkar, merasa selalu sedih dan terpuruk and sometimes it contained of either physically and verbally harm. The point is the Toxic Relations is bring more harmful for our physical or mental health.
Well, kalau sudah begitu, apakah Toxic Relations could be classified as a healthy relationship? of course the answer is NO.
Rasanya pasti sangat sulit jika kita sudah menghabiskan waktu bersama apalagi jika sudah bertahun-tahun menjalin komitmen lalu tiba-tiba setelah liat postingan di Instagram atau baca tulisan ini seketika galau, "wah apa gua sekarang ngalamin Toxic Relations ya?". Tentu akan menyesakan dada.
Jadi, bagaimana sih Hubungan Beracun atau Toxic relations itu terbentuk? - Of course banyak faktor yang melatarbelakangi timbulnya racun dalam sebuah hubungan, it could be from individual personality, specific situation, and many more.
Dalam menjalin sebuah hubungan sadar atau tanpa sadar kita membangun sebuah ekspektasi // BETUL?? // Jika ada yang mengatakan "I love you and I never expect anything from you", well I am a kind of person who don't believe it, at all. WHY ? Karena di saat awal kita saling mengenal, berusaha memahami sampai akhirnya memiliki hasrat atau keinginan untuk terus menjalin hari bersama, in fact we already build our own expectation's there. AGREE? atau kalian rela sudah menghabiskan waktu bersama, berusaha selalu ada untuk dia, mengingatkan dia untuk beribadah, makan, minum, ketoilet (?) tapi akhirnya si dia bersama orang lain ? such a hurtful friendzone, isn't?. hahaha.
Human tends to be an expectant in many sectors. We can say that, that is our own natural tendency to create a hope and make it into reality. Manusia lahir dengan sifat dan karakteristik yang berbeda satu dengan lainnya, ada yang hidupnya full of drama, segala hal dia fikirin, mungkin seperti "lebih dahulu mana induk bebek atau telur bebek".
Yup, untuk orang pemikir itu mungkin bisa jadi bahan dia untuk berfikir seharian sampai the question is fully answer. Disisi lain ada juga manusia yang hidupnya super cuek. Mau Induk bebek atau telur bebek yang lebih dahulu yang penting dua-duanya bisa dimakan. -_-. Brilliant.
Karena sifat alami manusia tersebut yang sudah terbiasa berekspektasi. Itu bisa jadi awal hubungan tidak sehat terbentuk. Bukan ekspektasinya tetapi the ability to control their own desire and expectations. Pokoknya harus dijalanin saat itu juga, harus keturutan. Nah itu yang kurang tepat. Basically, as a human being untuk bisa memahami situasi dan kondisi adalah hal yang basic yang seharusnya dimiliki manusia.
Saat kita menjalin sebuah hubungan, apakah teman-teman pernah merasa seperti ini,
a : aku sayang banget loh sama kamu.
b : aku juga sayang banget.
a : ya kamu inget kan, waktu kita naik motor, bensin habis. Aku nggak biarinin kamu jalan buat dorong motor sampe nemu abang tambal ban. Aku minta kamu duduk di motor dan aku yang dorong. Aku nggak pengen kamu capek. Inget kan ? Aku tuh berjuang banget buat kamu.
ya kira kira seperti itu ya perumpamaannya, entah nyambung atau tidak with the current topic we discuss. hehe
Terkadang dalam menjalin hubungan kita bertindak dominan atau lebih suka mendominasi sebuah hubungan. Attitude yang terlalu dominan seperti merasa "aku yang paling sayang dia, paling berjuang buat dia selama ini, dan paling ini dan itu" sementara menganggap pasangannya tidaklah demikian adalah hal yang keliru. Ini bisa menjadi pemicu hubungan tidak sehat kedepannya. Because the healthy relationship needs a balancing between one another. Tidak boleh meremehkan pasangannya dengan berfikir seperti itu. Bisa jadi banyak efforttidak terlihat yang luput dari pandangan.
Dalam menjalin sebuah hubungan sadar atau tanpa sadar kita membangun sebuah ekspektasi // BETUL?? // Jika ada yang mengatakan "I love you and I never expect anything from you", well I am a kind of person who don't believe it, at all. WHY ? Karena di saat awal kita saling mengenal, berusaha memahami sampai akhirnya memiliki hasrat atau keinginan untuk terus menjalin hari bersama, in fact we already build our own expectation's there. AGREE? atau kalian rela sudah menghabiskan waktu bersama, berusaha selalu ada untuk dia, mengingatkan dia untuk beribadah, makan, minum, ketoilet (?) tapi akhirnya si dia bersama orang lain ? such a hurtful friendzone, isn't?. hahaha.
Human tends to be an expectant in many sectors. We can say that, that is our own natural tendency to create a hope and make it into reality. Manusia lahir dengan sifat dan karakteristik yang berbeda satu dengan lainnya, ada yang hidupnya full of drama, segala hal dia fikirin, mungkin seperti "lebih dahulu mana induk bebek atau telur bebek".
Yup, untuk orang pemikir itu mungkin bisa jadi bahan dia untuk berfikir seharian sampai the question is fully answer. Disisi lain ada juga manusia yang hidupnya super cuek. Mau Induk bebek atau telur bebek yang lebih dahulu yang penting dua-duanya bisa dimakan. -_-. Brilliant.
Karena sifat alami manusia tersebut yang sudah terbiasa berekspektasi. Itu bisa jadi awal hubungan tidak sehat terbentuk. Bukan ekspektasinya tetapi the ability to control their own desire and expectations. Pokoknya harus dijalanin saat itu juga, harus keturutan. Nah itu yang kurang tepat. Basically, as a human being untuk bisa memahami situasi dan kondisi adalah hal yang basic yang seharusnya dimiliki manusia.
Saat kita menjalin sebuah hubungan, apakah teman-teman pernah merasa seperti ini,
a : aku sayang banget loh sama kamu.
b : aku juga sayang banget.
a : ya kamu inget kan, waktu kita naik motor, bensin habis. Aku nggak biarinin kamu jalan buat dorong motor sampe nemu abang tambal ban. Aku minta kamu duduk di motor dan aku yang dorong. Aku nggak pengen kamu capek. Inget kan ? Aku tuh berjuang banget buat kamu.
ya kira kira seperti itu ya perumpamaannya, entah nyambung atau tidak with the current topic we discuss. hehe
Terkadang dalam menjalin hubungan kita bertindak dominan atau lebih suka mendominasi sebuah hubungan. Attitude yang terlalu dominan seperti merasa "aku yang paling sayang dia, paling berjuang buat dia selama ini, dan paling ini dan itu" sementara menganggap pasangannya tidaklah demikian adalah hal yang keliru. Ini bisa menjadi pemicu hubungan tidak sehat kedepannya. Because the healthy relationship needs a balancing between one another. Tidak boleh meremehkan pasangannya dengan berfikir seperti itu. Bisa jadi banyak efforttidak terlihat yang luput dari pandangan.
So, the question is, when we are experiencing it, apakah kita harus STAY or LET IT GO?
If you saw the pict I displayed above, the answer is yes, you should stay away from the playground. Karena untuk bisa keluar dari sebuah hubungan yang tidak sehat itu memerlukan kemauan yang tinggi untuk mau sama-sama memahami, mendengar, mencari solusi, berkata "oke saya salah, saya seharusnya.." dan setelah nya berkeinginan kuat untuk mau berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Semua itu tidak bisa dijalankan oleh satu pihak. Karena hubungan itu dijalani oleh 2 individu dengan perbedaan sifat dan kepribadian, kemauan itu harus datang dari kedua pihak.
Semua itu tidak bisa dijalankan oleh satu pihak. Karena hubungan itu dijalani oleh 2 individu dengan perbedaan sifat dan kepribadian, kemauan itu harus datang dari kedua pihak.
I think everyone will agree with me, if I say hal yang paling sulit adalah melepaskan (?)
When you thought soomehow he/she is the right one atau memang kamu typical yang fighting person alias sangat berusaha hingga akhir, tidak ada salahnya. Karena semua keputusan ada ditangan kamu. Tapi ingat, berubah tidak bisa dilakukan seorang diri. Jika kamu yang berusaha dengan sangat keras tetapi partner kamu tidak memiliki frekuensi yang sama dengan kamu, you should consider it more.
Because however, you are the one yang menjalani dan merasakan. When you got hurt and so much pain, you are the one who feel it and cry. Air matamu jatuh di matamu sendiri bukan di mata orang lain.
Because however, you are the one yang menjalani dan merasakan. When you got hurt and so much pain, you are the one who feel it and cry. Air matamu jatuh di matamu sendiri bukan di mata orang lain.

Comments