Report Abuse

Blog Archive

Featured

Comments

Skip to main content

Perbedaan antara KOL dan Influencer, anak Marcom harus tahu



Halo sesuai judul, hari ini aku akan membahas tentang apa sih sebenarnya perbedaan KOL dan Influencer itu? 2 istilah ini sebenarnya sudah tidak asing lagi untuk mereka yang berkarir di dunia marketing sebagai staff marketing komunikasi dan pelaku bisnis.

Tugas dari Marketing Komunikasi adalah mengembangkan jaringan bisnis, memperkenalkan brand secara luas ke masyarakat sehingga dapat menaikan pendapatan bisnis sebuah perusahaan. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencapai target-target tersebut. Salah satu yang biasa dilakukan oleh tim Markom dari sebuah perusahaan adalah mencari sosok KOL dan Influencer yang tepat sesuai dengan target pasar yang ingin dituju. Hal ini dilakukan untuk membantu perusahaan tersebut memperkenalkan brand/produk yang dimiliki ke masyarakat secara lebih luas/branding purpose.

Namun sebelum aku membahas lebih lanjut tentang perbedaan kedua istilah tersebut, izinkan aku untuk menjelaskan terlebih dahulu, makna dari KOL dan Influencer itu sendiri. 


APA ITU KOL ?

Key Opinion Leader atau yang biasa disingkat dengan KOL merupakan orang yang memang dikenal ahli dibidangnya. Sebagai contoh, Chef Farah Quinn yang memang terkenal expert dibidang pastry. Jadi nggak heran kalau Farah Quinn dijadikan sebagai KOL untuk brand yang berhubungan dengan kue/pastry.

Jika Farah Quinn membagikan resep kue dengan teknik yang berbeda menggunakan bahan tepung yang ia rekomendasikan di media sosialnya, masyarakat tentu akan percaya kalau rasa kuenya pasti enak jika menggunakan teknik dan tepung tersebut. Pada akhirnya audience akan mencoba menggunakan tepung yang direkomendasikan oleh Farah Quinn. Itu semua karena yang memperkenalkan adalah Farah Quinn yang memang memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman bertahun-tahun dibidang pastry. Berbeda halnya jika Farah Quinn diundang sebagai pembicara yang membahas tentang bagaimana caranya mengefektifkan peran digital marketing sebagai kunci sukses product branding sebuah perusahaan. Pasti audience yang melihat akan bertanya-tanya dan meragukan. 

Lalu haruskah seorang KOL ini memiliki pengikut yang banyak di akun media sosial pribadinya? - Jawabannya adalah tidak menjadi sebuah keharusan. Namun, di era digital seperti saat ini dimana hampir sebagian orang memiliki akun media sosial, biasanya tidak sedikit KOL yang juga memiliki pengikut atau aktif berbagi di akun media sosialnya. Tentu seorang KOL yang terkenal, memiliki banyak fans setia, dengan jumlah pengikut yang banyak di media sosial akan menjadi sebuah keuntungan untuk brand tersebut. 


APA ITU INFLUENCER?

Influencer dalam bahasa Indonesia berarti orang yang dapat memberikan pengaruh. Influencer merupakan orang yang aktif di media sosial dengan jumlah pengikut yang banyak. Lalu apakah artis juga dapat dikategorikan sebagai Influencer? - Jawabannya adalah tentu saja bisa. Siapapun dia, artis, youtuber, blogger, pengguna Instagram, jika memiliki pengaruh yang besar di media sosial tentu dapat dikategorikan sebagai Influencer. Karena pada umumnya, apa yang dilakukan seorang Influencer, seperti gaya berpakaian, pilihan makeup, hal yang ia katakan dan rekomendasikan dapat membuat audience percaya dan akhirnya mengikuti.

Mengapa demikian? - Hal tersebut karena seorang Influencer umumnya sudah memiliki Niche-nya sendiri. Sehingga pengikut/audience yang ia miliki memang orang-orang yang memiliki interest/ketertarikan yang sama. Ia diikuti karena memang dipercaya memiliki kemampuan dibidang tersebut, itu yang menyebabkan ia memiliki banyak pengikut setia. Berbeda halnya dengan seorang publik figure. Meskipun ia memiliki jumlah pengikut yang fantastis, namun pengikutnya umum, bukan karena memiliki Niche yang sama.

Apakah ada jumlah follower/pengikut tertentu agar dapat dikategorikan sebagai Influencer? - jawabannya adalah ya. Influencer sendiri memiliki beberapa klasifikasi yakni, Nano, Micro, Macro, dan Mega. Level Nano dimulai dari pengikut Instagram berjumlah 1000, seorang Influencer dikatakan Micro jika ia memiliki minimal 10 ribu pengikut di media sosial Instagram, lalu Macro memiliki minimal pengikut berjumalah 100 ribu dan Mega memiliki pengikut minimal berjumlah satu jutaan.

Influencer sering kali menciptakan trend-trend terbaru di media sosial yang banyak diikuti oleh audiencenya. Karena hal tersebut brand biasanya lebih menyukai Influencer untuk memperkenalkan produk ke masyarakat dan meningkatkan angka penjualan bisnisnya.

Ada beberapa artikel di luaran sana yang mengatakan kalau Influencer hanya fokus untuk meningkatkan penjualan sedangkan KOL untuk meningkatkan brand awareness. Hal tersebut karena KOL merupakan orang yang expert/ahli dibidang tertentu yang berperan sebagai penyambung antara brand dan masyarakat. Menurut aku pribadi, baik Influencer dan KOL sama-sama bertujuan untuk meningkatkan brand awareness. Bagaimana angka penjualan bisa naik jika tidak ada rasa percaya untuk membeli? tentu mustahil. Seseorang membeli sesuatu karena ada rasa ketertarikan dan percaya bahwa produk tersebut memang bagus untuk digunakan. Ini yang dilakukan oleh KOL dan Influencer.


LALU APA BEDANYA KOL DAN INFLUENCER?

KOL dan Influencer ini memang terlihat serupa karena sama-sama di engage untuk bisa memperkenalkan produk/brand ke masyarakat secara luas. Sama seperti yang sudah di sampaikan diatas, keduanya sama-sama memiliki intention untuk bisa membuat brand awareness dan  memunculkan trust agar dapat meningkatkan angka penjualan dari brand tersebut. Namun ada sedikit yang membedakan yakni Influencer tidak harus memiliki latar belakang pendidikan di bidang tertentu unuk bisa memperkenalkan sebuah produk ke masyarakat. 

Jika KOL merupakan orang yang ahli dibidang tertentu, seperti Farah Quinn yang memang memiliki background pendidikan dibidang pastry dan pengalaman bertahun-tahun sebagai seorang chef sehingga ia dipercaya dapat mempengaruhi masyarakat yang gemar membuat kue, namun disisi lain Influencer yang tidak memiliki background pendidikan formal dalam bidang pastry pun juga bisa diajak bekerja sama dengan brand jika memang orang tersebut memiliki niche (fokus tertentu) dalam bidang kue/pastry.

Tasyi Athasyia merupakan saudara kembar dari Tasya Farasya seorang beauty vloger terkenal di Indonesia. Tasyi kerap mengunggah video konten di akun youtube pribadinya mengenai resep kue rekomendasinya. Meskipun ia bukan merupakan seorang chef yang mengambil pendidikan formal dibidang pastry seperti Farah Quinn, namun audiencenya percaya ia mahir membuat kue dan mengikuti saran yang ia berikan. 

Selanjutnya yang membedakan adalah seorang KOL tidak harus aktif di media sosial layaknya Influencer, karena tanpa ia muncul masyarakat tetap akan mengetahui keahliannya. Hal tersebut karena seorang KOL akan menjadi KOL karena memang ia sudah dikenal akan kemampuannya. 

MANA YANG HARUS DIPILIH ?

Mengenai pertanyaan tersebut jawabannya adalah tergantung tujuan, target market dan tentunya budget yang dimiliki. Karena banyaknya variasi Influencer dimulai dari Nano hingga Mega, ini membuka kesempatan untuk pelaku bisnis dengan budget tidak terlalu besar  tetap memiliki kesempatan untuk menggunakan jasa Influencer.

Influencer dengan level Micro mungkin hanya memiliki pengikut 10 ribuan namun bukan berarti tidak menjanjikan. Influencer dengan jumlah pengikut tidak terlalu banyak biasanya memiliki engagement audience yang real. Jika kita ingin menciptakan campaign produk, mungkin akan berat jika memilih 10 Influencer dengan level mega secara bersamaan karena akan mengeluarkan banyak cost. Namun, jika kita menggunakan 20 Influencer Micro dan 10 Influencer Macro ditambah 1 Influencer Mega, campaign brand yang dituju akan dapat menjangkau kalangan lebih luas.

Ini yang biasanya membuat pelaku bisnis seperti Marcomm dari sebuah brand lebih memilih menggunakan jasa Influencer untuk membangun brand awareness dan trust dari masyarakat dibanding harus menggunakan KOL.

Jadi jika ingin memilih Influencer untuk meningkatkan brand awareness, kita harus memilih Influencer yang memang memiliki niche yang sama dengan bisnis yang kita miliki. Perhatikan juga engagement yang dimiliki di akun media sosialnya. Jangan hanya terpaku pada jumlah pengikut saja namun like yang dimiliki dan pastinya interaksi pengikut di kolom komentar. Hal tersebut dilakukan agar kerjasama dapat berjalan dengan maksimal sehingga insight yang didapatkan oleh pelaku bisnis sesuai dengan yang diharapkan. 

Comments