![]() |
*gambar simulasi tarik-tanam benang |
Tulisan ini berasal dari pengalaman pribadi-ku sekitar kurang lebih 3 bulan lalu merasa dilema stay or leave it dalam menentukan pilihan yang berhubungan dengan pekerjaan. Siapa tahu ada teman-teman yang pernah mengalami dilema ini sebelumnya. Kita bisa sharing dan saling menguatkan. hehe.
Dilema itu bermula saat dipertengahan aku enjoying my new life as Marketing Communication Staff. Aku ceritakan terlebih dahulu, setelah lulus kuliah aku bekerja sebagai staff Inbound Social Media untuk perusahaan terkenal yang membuka cabang di Yogyakarta. Aku lahir dan besar di Jakarta namun memulai karir di Yogyakarta, sebenarnya karena masih terlalu nyaman untuk meninggalkan kota tercinta. haha.
Karena pengalaman kurang lebih 8 bulan tersebut aku berhasil diterima untuk posisi Marketing Komunikasi untuk perusahaan yang bergerak dalam bidang klinik kecantikan di Jakarta. Perusahaan terbilang baru, karena aku dan satu orang partner kerjaku merupakan staf Markom pertama disana. Kebayang kan betapa banyak peran yang harus dijalani? sudah bukan double roles tetapi triple bahkan quartet. *garing. hahaha.
Di awal melamar untuk pekerjaan tersebut, aku memang sudah mengetahui kalau treatment yang nantinya tersedia juga meliputi hard treatment seperti noselift, threadlift, botox, filler, dsb. Namun tetap aku perjuangkan dengan maksimal setiap prosesnya untuk bisa lolos posisi tersebut. To have a career in Marketing, terkhusus Marketing Komunikasi memang sudah menjadi impian sejak aku lulus kuliah. Singkat cerita hingga finally aku lulus dan mulai bekerja. Di awal karir aku tidak terlalu memusingkan apakah treatment tersebut halal/haram dilakukan. Fikirku, karena treatment tersebut berbeda dengan operasi plastik yang merubah bentuk secara permanen. Hari demi hari, minggu demi minggu aku lalui.
Masyaallah senang sekali saat itu, karena aku merasa pekerjaan tersebut sangat cocok dengan karakter-ku yang memang tidak suka pekerjaan yang monoton. Sebagai staf Markom aku sering sekali bertemu dengan client di luar kantor, menemani influencer untuk treatment sebagai bentuk endorsement, mondar-mandir klinik-kantor, dsb. Jam kerja ku bisa dibilang lebih fleksibel dibanding teman-teman ku yang bekerja di perusahaan lain meskipun memiliki posisi yang sama. Jam masuk kantor adalah pukul 09.30 dan pulang pukul 18.00, namun aku dan teman-teman yang lain sering sekali hadir lewat jam tersebut. Bahkan jika aku memiliki jadwal endorsement which mean aku harus stay di klinik, aku baru datang saat klinik buka sekitar jam 11.00 siang dan pulang pukul 17.00 sore. Dewaa.. hahahah, seperti tidak niat kerja, ya? Senangnya bukan main, karena target ku bukan nominal penjualan dalam bentuk angka seperti mereka yang kerja sebagai sales marketing, tetapi lebih ke engagement dan branding produk. Tidak ada yang tidak aku suka dari pekerjaan ku saat itu.
Tetapi drama dimulai saat aku dan partner kerja memiliki janji untuk meeting dengan agensi media muslim terbesar di Indonesia di salah satu mall di Jakarta. Sebelum prospect client hadir, partner-ku bertanya "Frey, kalo tarik-tanam benang itu sebenarnya boleh nggak sih di Islam? soalnya kita kan mau ketemu nih sama mereka, biar bisa kita sesuaikan offeringnya". Sejujurnya saat itu aku bingung harus menjawab apa karena kurangnya ilmu dan iman (mungkin), aku jawab "hmm.. kurang tau sih beyb, tapi kan ini bukan permanen ya, nggak sama kayak operasi plastik. Jadi mungkin boleh kali, ya. Jujur kalau aku sih, aku pasti mau kalau dapet chance treatment tarik-tanam benang". Jawaban yang astagfirulloh. Sebenarnya setelah itu, ada rasa resah di hati, karena merasa "apa gua salah ya?", "duh gua takut dosa, tapi udah kesebut". Manusia.. manusia..
Setelah beberapa hari berlalu, aku, photographer, dan partner kerja janjian dengan salah satu artis FTV yang masih terbilang baru dan managernya (yang aku tahu adalah mama nya sendiri), untuk treatment sebagai bagian dari perjanjian endorsement. Di awal kita ngobrol sebenarnya beliau prefer agar anaknya soft treatment saja karena mengingat umurnya yang masih terbilang muda, sekitar 19 tahun. Tapi kalau sudah konsultasi dengan dokter tentu akan berbeda jadinya. Ada beberapa treatment yang diberikan saat itu salah satunya tanam benang hidung karena kebetulan hidungnya sedikit bengkok karena sebuah kecelakaan kecil.
Saat partner kerja dan photographer sedang mengambil stock shoot dengan anak tersebut, aku dan mama nya menunggu di ruang tunggu sambil berbincang-bincang sedikit. Tiba-tiba sang ibu bertanya pertanyaan yang membuatku kikuk dan bingung bagaimana harus menjawab. Beliau menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang partner kerja ku tanyakan beberapa hari sebelumya saat meeting. Sesuai dugaan, aku menjawab exactly the same answer seperti yang kuberikan sebelumnya ke partner kerjaku, dalam hati "astagfirulloh, dosa banget nih kalau salah".
Saat menunggu anak tersebut treatment, kami semua menunggu di ruang tunggu dan berbincang. Aku masih ingat, aku sedikit tersenyum menanggapi perbincangan saat itu. Sesungguhnya, aku tersenyum namun hati ku berasa tidak tenang. hahaha.
Beberapa hari berlalu, aku merasa semakin was-was dan tidak tenang memikirkan apakah pekerjaan ini di ridhoi oleh Allah swt. By the way, karena aku markom aku punya little privilage untuk mengendorse atau memberikan free treatment, salah satunya adalah teman dekatku sendiri. Sengaja aku menangi saat klinik memiliki kuis yang hadiahnya free treatment bagi mereka yang qualified sesuai rules. Pada intinya, hari silih berganti namun, rasa was-was ku malah semakin menjadi-jadi.
Namun saat sudah ingin memutuskan resign, ada saja kekhawatiran yang datang dan aku rasakan, seperti "duh gimana kalau resign aku harus nunggu lama nggak ya sampe dapet kerja lagi" atau perasaan-perasaan khawatir duniawi lainnya. Hingga sering sekali mencari referensi di google tentang hukum boleh tidaknya seseorang melakukan treatment merubah bentuk seperti itu. Mashaallah, salah satu teman membantu untuk menanyakan hal tersebut ke temannya yang memiliki beberapa guru ustadz. Kesimpulan yang aku ambil saat itu adalah, lebih baik ditinggalkan karena semakin mendekati ke pekerjaan yang di laknat Allah swt. Duarrrd, takut banget dong. Kalian pernah mendengar "memilih yang diyakini dan meninggalkan keraguan?". Untuk lebih lengkapnya silakan bisa di google sendiri ya, teman-teman.
Setelah itu, alhamdulillah aku memutuskan untuk resign dan mengirimkan surat permohonan pengunduran diri di awal bulan Juni 2020. Saat itu, banyak yang menentang termasuk sahabat dan keluarga, karena di saat Pandemic banyak orang yang harus di berhentikan, namun aku memilih untuk berhenti kerja. Pekerjaan sangat sulit di dapat di masa sekarang ini, jadi paling tidak seharusnya aku bertahan hingga mendapatkan kerja baru. Namun, sampai kapan aku harus menanggung dosa orang lain disaat dosa ku begitu banyak hingga tidak terhitung jumlahnya. Aku menguatkan diri dan memiliki meyakini bahwa Allah akan memberikan pengganti pekerjaan yang lebih baik lagi untuk ku.
Well, memang sangat sulit dan tidak mudah mengambil decision untuk bisa keluar dari pekerjaan yang sedang nyaman-nyamannya di jalani. Kalian pernah dengar "pekerjaan yang tidak disukai Allah swt memang mashaallah sangat luarbiasa nyaman, karena disitu tantangannya".
Benar saja, jeda beberapa hari setelah aku resmi menganggur, Allah memberikan aku kesempatan untuk bisa bekerja. Namun, setelah 2 kali resign aku semakin lebih selektif. Bukan berarti aku memilih-milih pekerjaan tapi lebih kepada, aku ingin bisa bertahan lama. Bagi ku "lebih baik gaji cukup, dengan pekerjaan yang barokah, dari pada gaji besar, namun hidup dalam rasa was-was".
Saat ini aku masih mencari pekerjaan. Di tengah pencarian aku berusaha semaksimal mungkin untuk bisa tetap produktif dengan berusaha terus menulis di blog ini, menjalankan bisnis kecilku dalam bidang thrifting, dsb. Sebenarnya karena hal tersebut, aku jadi galau untuk memilih being entrepreneur atau bekerja di kantor. Lain waktu aku akan tulis part 2 ke galauan ku, memilih antara kedua hal tersebut agar tulisan ini tidak terlalu panjang. Aku yakin ada banyak teman-teman diluar sana yang memiliki pengalaman yang sama terlebih pandemic ini dirasakan oleh semua kalangan.
By the way, apakah teman-teman ada yang pernah mengalami dilema dalam pekerjaan seperti yang aku rasakan dan ceritakan diatas? Bagaimana teman-teman menyikapinya? Yu tulis di komentar, jadi kita semua bisa saling memberikan saran terbaik dan saling menguatkan pastinya.

Comments